Terapi Madu
Sejak
ribuan tahun silam madu sudah dikenal sebagai minuman sumber energi
yang memiliki khasiat sebagai obat. Apa saja keistimewaannya dan
penyakit apa saja yang bisa diatasi dengan madu?
Dalam dunia kedokteran, madu memang tidak digolongkan sebagai obat.
Madu hanya digolongkan sebagai suplemen atau minuman kesehatan.
Karenanya jarang ada dokter yang meresepkan madu kepada para pasiennya.
Tetapi uniknya, banyak literatur kuno dan kitab suci yang justru
menyebutkan madu sebagai minuman sehat yang memiliki khasiat sebagai
obat.
Sebagai contoh, Al Quran surat An Nahl (Lebah) ayat 69 menyebutkan
bahwa, ”Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam
warnanya. Di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.”
Madu juga disebut memiliki khasiat sebagai obat dalam kitab Ayurveda
yang antara lain untuk mengatasi sakit paru-paru. Sementara Aristoteles
(350 SM) dalam bukunya Historia Animaliu menuliskan bahwa madu putih
baik untuk mengobati sakit mata, dan Celsius, seorang dokter Romawi
selalu memberikan madu pada pasiennya yang menderita diare karena efek
antibakteri dan kandungan nutrisinya mudah dicerna.
Istimewanya madu
Madu adalah cairan manis berasal dari nektar tumbuhan yang diproduksi
oleh lebah madu. Nektar adalah senyawa kompleks yang dihasilkan
kelenjar necteriffier dalam bunga. Bentuknya cairan, rasanya manis alami
dengan aroma yang lembut. ”Nektar mengandung air (50-90 persen),
glukosa, fruktosa, sukrosa, protein, asam amino, karoten, vitamin, dan
minyak, serta mineral esensial,” demikian penjelasan Dr Adji Suranto,
ahli apitherapy dan pengajar pemanfaatan produk perlebahan di Apiari,
Pramuka, Cibubur, yang juga Ketua Komisi Apitherapy Asosiasi Perlebahan
Indonesia (API).
Bagaimana madu berefek terapi? Kandungan nilai gizi (lihat boks) dan
variasi kompisisi kandungan zat-nyalah yang membuat madu terbukti
berkhasiat sebagai terapi. Salah satu yang paling penting adalah
kandungan zat antibiotiknya untuk melawan serangan berbagai kuman
patogen penyebab penyakit, seperti hasil penelitian Peter C Molan
(1992), dari
Departement of Biological Sciences, University of Waikoto,
Selandia Baru.
Para ahli menduga, zat antibakteri pada madu muncul karena adanya
efek osmotik yang berasal dari tingginya kandungan gula madu, sekitar 84
persen dibanding kadar airnya yang hanya sekitar 15 persen. ”Sedikitnya
kandungan air dalam madu yang berinteraksi dengan kadar gula dalam madu
itulah yang membuat bakteri tidak dapat hidup. Karena tidak ada bakteri
yang mampu hidup pada medium berkadar air kurang dari 17 persen, ” kata
Dr Adji.
Ciri khas madu lainnya adalah sifatnya yang asam dengan pH antara 3,2
sampai 4,5 sehingga cukup untuk menghambat pertumbuhan bakteri yang
biasanya berkembang biak pada pH 7,2 sampai 7,4. Madu juga dapat
meningkatkan pembelahan sel limfosit, yang berperan dalam pembentukan
sel darah putih dalam tubuh, sehingga berkasiat meningkatkan imunitas
tubuh.
Namun demikian Aristoteles menyatakan, madu dari area dan musim
tertentu dapat mengobati penyakit tertentu pula. Ini artinya, efek
antibakteri madu berbeda-beda tergantung sumber nektarnya. Sementara,
National Honey Board 2005, melaporkan bahwa madu yang berwarna gelap
seperti madu manuka dan varitas madu buckwheat, terbukti memiliki kadar
antioksidan lebih tinggi dibanding madu berwarna terang seperti madu
akasia atau clover.
Beberapa hal yang membuat efek antibakteri madu ini berbeda-beda
adalah kandungan hidrogen peroksida dan non-peroksida, serta vitamin C,
ion logam, enzim katalase, dan ketahanan madu terhadap suhu serta
sensitivitas enzimnya terhadap cahaya.Karenanya, ada sebagian ahli yang
berpendapat bahwa efek antibakteri madu yang terbaik diperoleh dengan
cara mengoleskan (topikal), dan secara umum akan berkurang efeknya jika
tercampur zat lain atau diencerkan. Meski begitu, penelitian terakhir
menunjukkan bahwa efek antibakteri madu juga efektif bila ditelan,
misalnya pada infeksi pencernaan atau sakit maag.
Efektif untuk gangguan maag
Adalah Karina Purbasari (27 tahun), seorang model yang telah
membuktikan khasiat antibakteri madu ini pada kasus maag kronis yang
dideritanya. Sebelumnya, setiap maagnya kambuh ia selalu pergi ke dokter
dan mendapat resep aneka obat maag, ”Tetapi begitu obat habis, saat itu
juga maag saya selalu kambuh,” ujarnya. Tidak hanya itu, setiap
tahunnya sedikitnya Karina tiga kali harus masuk rumah sakit gara-gara
serangan maag ini.
Di tengah diet ketat yaitu harus ngemil setiap jam untuk mencegah
serangan maag secara tiba-tiba, seorang teman yang memiliki pengalaman
sama, menganjurkannya untuk mencoba terapi madu, yakni terapi pengobatan
dengan menggunakan madu. ”Saya langsung mencoba, ” katanya.
Terapi madu diawali dengan dosis tiga kali sehari selama dua minggu
masing-masing 1 sendok makan di pagi hari, siang hari, dan menjelang
tidur. Dua minggu kemudian, karena sudah jarang kambuh, Karina
mengurangi dosisnya menjadi dua kali sehari, yakni 1 sendok makan
sebelum makan siang dan 1 sendok makan menjelang tidur. ”Sekarang maag
saya sudah tidak pernah kambuh lagi,” tuturnya.
Menurut Dr Adji Suranto, madu memang telah terbukti membantu saraf
sensorik dinding lambung merangsang pelepasan zat molekul hasil uraian
protein (yaitu peptida) untuk meningkatkan aliran darah ke selaput
lendir lambung guna melindungi lambung dari kerusakan. (N)
Dosis Umum Konsumsi Madu untuk Kesehatan
- Dosis madu yang dianjurkan untuk dewasa adalah 100 – 200 gram sehari. Diminum 3 kali sehari masing-masing pagi 30-60 gram, siang 40-80 gram, dan malam 30- 60 gram
- Disarankan 1 ½ jam atau 2 jam sebelum makan atau 3 jam sesudah makan.
- Untuk anak-anak dosis madu 30 gram sehari.

0 komentar:
Posting Komentar